Selamat Datang Di Blog Pemapar Kebathilan

Diam Diam Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Menyesatkan

Diam Diam Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Menyesatkan

Tadi malam saya menonton sinetron Tukang Bubur Naik Haji dan saya sangat kecewa karna senetron yang saya sukai tersebut semakin lama semakin banyak salahnya.
Kesalahan kesalahan dalam Film Film Indonesia sebenarnya penyebabnya hampir sama,dan kesalahan kesalahan Film Film Indonesia juga sama,yaitu banyaknya salah pengucapan dan tidak fahamnya kepada islam atau aliran islam itu sendiri.
Saya disini dan saat sekarang tidak bisa menjelaskan apa saja kesalahan dalam Film Film Bernuansa Islam Di Indonesia atau Kesalahan dalam Sinetron Sinetron Indonesia secara lengkap dan gamblang.
Secara singkat kesalahan yang sering terjadi,dan boleh dibilang semua perfilman indonesia masih sangat tidak fasih menyebut lafadh lafadh arab,seperti contohnya menyebut "ustadzah" dengan "ustazah","adzan" dengan "azan","ramadlan" dengan "ramadan","dhuhur" dengan "zuhur" dan banyak yang lainnya.
lebih parahnya,tadi malam dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji mengatakan bahwa melakukan Haji bukanlah wajib,akan tetapi hanya lebih baik.
hal itu sangat salah.
Haji itu jelas hukumnya wajib.
Haji adalah rukun islam yang ke5.orang yang belum melaksanakan ibadah haji berarti masih belum sempurna islamnya apabila dia memang sudah mampu melaksanakan haji baik dalam segi ekonomi maupun  jasmani.
kewajiban haji itu bisa hilang/tidak mengamal lagi apabila ada unsur ketidak mampuan atau sudah pernah melaksanakannya.
haji yang kedua,ketiga dan seterusnyalah yang mempunyai hukum sunnah,namun haji yang pertama adalah wajib.
Sedangkan yang dibahas di Sinetron Tukang Bubur Naik Haji adalah haji yang pertama yang hendak dilakukan oleh pak ustadz di Sinetron Tukang Bubur Naik Haji waktu sedang berdialog dengan si kardun.
Jadi menurut saya,Sinetron Tukang Bubur Naik Haji perlu merubah dan diperbaiki lagi.
Semoga saja postingan "Diam Diam Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Menyesatkan" ini dibaca oleh orang orang yang bersangkutan "itulah harapan Pemapar Kebathilan"