Selamat Datang Di Blog Pemapar Kebathilan

Kritikan Sidogiri kepada Quraish Shihab

Quraish shihab memang selalu membuat perpecahan pendapat,dia seorang tokoh yang besar karna pendapat pendapatnya yang selalu membuat kebengkokan.
Sensasi,mungkin itu jalan yang ditempuhnya untuk membesarkan namanya.
Sebagian Orang awam berpendapat bahwa quraish shihab adalah tokoh islam yang mempuni dalam agama islam,tapi itu hanyalah pendapat mereka,wong namanya orang awam!ya..pastinya tidak bisa mengukur kealiman seseorang.
kealiman seseorang bukan dilihat dari karangan bukunya,apalagi cuma karangan buku terjemah dan ditambah lagi pengambilan sumbernya dari buku terjemah pula atau dari kitab kitab yang memang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
kemaren penyimpangan pendapat quraish shihab juga samapai dibantah oleh pondok sidogiri.
Saya sebenarnya tidak heran kalau itu sampai dilakukan oleh sidogiri,karna penyimpangan yang dilakukan quraish shihab memang sudah terlalu.
Banyak hal yang dilakukan quraish shihab yang ternyata menyimpang dari faham ahlus sunnah wal jama'ah,saya sendiri sempat berdebat dengan quraish shihab,malah sampai 2 kali,namun quraish shihab tidak bisa menjawabnya,hal itu juga membuktikan bahwa dia bukanlah orang yang mempuni dalam ilmu agama.
Sebagai Ummat islam kita memang harus sangat berhati hati mengikuti tokoh islam,karna tidak sedikit tokoh islam yang ada,hanyalah tokoh yang ditokohkan,mereka menjadi tokoh bukan karna ilmunya akan tetapi karna memang ada pihak yang mendukungnya.
Tokoh Tokoh yang sangat bahaya juga banyak timbul dari mereka yang suka membuat buku,selain quraish shihab saya juga sudah memosting artikel kritikan mengenai  buku sesat yaitu postingan yang berjudul "MENGOBATI PENYAKIT ITU MUDAH!!"
mengenai kritikan kepada quraish shihab saya juga sudah pernah membahasnya di postingan yang berjudul "Kritik Terhadap Quraish Shihab"
namun herannya,kenapa masih saja orang orang seperti quraish shihab,cak moes dll ada saja yang mengikuti?!padahal faham dan pemikirannya sudah jelas jelas tidak sesuai dengan ilmu dan syari'ah islam yang berfaham ahlus sunnah wal jama'ah.
kemabali lagi kepada pembahasan kritikan pondok pesantren sidogiri kepada quraish shihab,saya akan menulis dibawah ini sebagian kritikan pesantren sidogiri lewat bukunya yang sudah agak lama telah diterbitkan.

Belum lama ini saya menerima kiriman berupa sebuah buku terbitan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Judulnya cukup panjang: “Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)” Penulisnya adalah Tim Penulis Buku Pustaka SIDOGIRI, Pondok Pesantren Sidogiri, yang dipimpin seorang anak muda bernama Ahmad Qusyairi Ismail.

Membaca buku ini halaman demi halaman, muncul rasa syukur yang sangat mendalam. Bahwa, dari sebuah pesantren yang berlokasi di pelosok Jawa Timur, terlahir sebuah buku ilmiah yang bermutu tinggi, yang kualitas ilmiahnya mampu menandingi buku karya Prof. Dr. Quraish Shihab yang dikritik oleh buku ini. Buku dari Pesantren Sidogiri ini terbilang cukup cepat terbitnya. Cetakan pertamanya keluar pada September 2007. Padahal, cetakan pertama buku Quraish Shihab terbit pada Maret 2007. Mengingat banyaknya rujukan primer yang dikutip dalam buku ini, kita patut mengacungi jempol untuk para penulis dari Pesantren tersebut.

Salah satu kesimpulan Quraish Shihab dalam bukunya ialah, bahwa Sunni dan Syiah adalah dua mazhab yang berbeda. “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada kedua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab – dimana pun ditemukan – adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul (prinsip-prinsip dasar) keimanan, tidak juga dan Rukun-rukun Islam.” (Cetakan II, hal. 265).

Berbeda dengan Quraish Shihab, pada bagian sampul belakang buku terbitan Pesantren Sidogiri, dikutip sambutan KH. A. Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Pesantren Sidogiri yang menegaskan: “Mungkin saja, Syiah tidak akan pernah habis sampai hari kiamat dan menjadi tantangan utama akidah Ahlusunnah. Oleh karena itu, kajian sungguh-sungguh yang dilakukan anak-anak muda seperti ananda Qusyairi dan kawan-kawannya ini, menurut saya merupakan langkah penting untuk membendung pengaruh aliran sesat semacam Syiah.”

Berikut ini kita kutip sebagian kritik dari Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab (selanjutnya Quraish Shihab disingkat “QS” dan Pondok Pesantren Sidogiri disingkat “PPS”). Kutipan dan pendapat QS dan PPS diambil dari buku mereka masing-masing.

1. Tentang Abdullah bin Saba‘.

QS: “Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65).

PPS: Bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sejumlah tokoh Syiah yang diakui ke-tsiqah-annya oleh kaum Syiah juga mengakui kebaradaan Abdullah bin Saba’. Sa’ad al-Qummi, pakar fiqih Syiah abad ke-3, misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan sekte Saba’iyah. Dalam bukunya, al-Maqalat wa al-Firaq, (hal. 20), al-Qummi menyebutkan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang memunculkan ide untuk mencintai Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a. Kisah tentang Abdullah bin Saba’ juga dikutip oleh guru besar Syiah, An-Nukhbati dan al-Kasyi, yang menyatakan, bahwa, para pakar ilmu menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang kemudian masuk Islam. Atas dasar keyahudiannya, ia menggambarkan Ali r.a. setelah wafatnya Rasulullah saw sebagai Yusya’ bin Nun yang mendapatkan wasiat dari Nabi Musa a.s. Kisah Abdullah bin Saba’ juga ditulis oleh Ibn Khaldun dalam bukunya, Tarikh Ibn Khaldun. (hal. 44-46).

2. Tentang hadits Nabi saw dan Abu Hurairah r.a.:

QS: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan. Disamping itu semua, harus diakui juga bahwa tingkat kecerdasan dan kemampuan ilmiah, demikian juga pengenalan Abu Hurairah r.a. menyangkut Nabi saw berada di bawah kemampuan sahabat-sahabat besar Nabi saw, atau istri Nabi, Aisyah r.a.” (hal. 160).

QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena sementara pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadits-haditsnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150).

PPS: “Sejatinya, melancarkan suara-suara miring terhadap sahabat pemuka hadits sekaliber Abu Hurairah r.a. dengan menggunakan pendekatan apa pun, tidak akan pernah bisa meruntuhkan reputasi dan kebesaran beliau, sebab sudah pasti akan bertentangan dengan dalil-dalil hadits, pengakuan para pemuka sahabat dan pemuka ulama serta realitas sejarah. Jawaban untuk secuil sentilan terhadap Abu Hurairah r.a. sejatinya telah dilakukan oleh para ulama secara ilmiah dan rasional. Banyak buku-buku yang ditulis oleh para ulama khusus untuk membantah tudingan miring terhadap sahabat senior Nabi saw tersebut, diantaranya adalah al-Burhan fi Tabri’at Abi Hurairah min al-Buhtan yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Ali an-Nash, Dr. Al-A’zhami dalam Abu Hurairah fi Dhau’i Marwiyatih, Muhammad Abu Shuhbah dalam Abu Hurairah fi al-Mizan, Muhammad ?Ajjaj al-Khatib dengan bukunya Abu Hurairah Riwayat al-Islam dan lain-lain.”

Dalam Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir mengatakan, bahwa Abu Hurairah r.a. merupakan sahabat yang paling kuat hafalannya, kendati beliau bukan yang paling utama. Imam Syafii juga menyatakan, “Abu Hurairah r.a. adalah orang yang memiliki hafalan paling cemarlang dalam meriwayatkan hadits pada masanya.” (hal. 320-322).

Karena kuatnya bukti-bukti keutamaan Abu Hurairah, maka PPS menegaskan: “Dengan demikian, maka keagungan, ketekunan, kecerdasan dan daya ingat Abu Hurairah tidak perlu disangsikan, dan karena itulah posisi beliau di bidang hadits demikian tinggi tak tertandingi. Yang perlu disangsikan justru kesangsian terhadap Abu Hurairah r.a. seperti ditulis Dr. Quraish Shihab: “Karena itu, harus diakui bahwa semakin banyak riwayat yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahannya dan karena itu pula kehati-hatian menerima riwayat-riwayat dari Abu Hurairah merupakan satu keharusan.” (hal. 322).

“Pernyataan seperti yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Shihab tersebut sebetulnya hanya muncul dari asumsi-asumsi tanpa dasar dan tidak memiliki landasan ilmiah sama sekali. Sebab jelas sekali jika beliau telah mengabaikan dalil-dalil tentang keutamaan Abu Hurairah dalam hadits-hadits Nabi saw, data-data sejarah dan penelitian sekaligus penilaian ulama yang mumpuni di bidangnya (hadits dan sejarah). Kekurangcakapan Dr. Quraish Shihab di bidang hadits semakin tampak, ketika beliau justru menjadikan buku Mahmud Abu Rayyah, Adhwa’ ?ala Sunnah Muhammadiyah, sebagai rujukan dalam upaya menurunkan reputasi Abu Hurairah r.a. Padahal, semua pakar hadits kontemporer paham betul akan status dan pemikiran Abu Rayyah dalam hadits.” (hal. 322-323).

Tentang banyaknya hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Dr. al-A’zhami melakukan penelitian, bahwa jumlah 5.000 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah adalah jika dihitung hadits yang substansinya diulang-ulang. Jika penghitungan dilakukan dengan mengabaikan hadits-hadits yang diulang-ulang substansinya, maka hadits dari Abu Hurairah yang ada dalam Musnad dan Kutub as-Sittah tinggal 1336 saja. “Nah, kadar ini, kata Ali as-Salus, bisa dihafal oleh pelajar yang tidak terlalu cerdas dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagaimana dengan Abu Hurairah, yang merupakan bagian dari mu’jizat kenabian?” (hal. 324).

Memang dalam pandangan Syiah, seperti dijelaskan oleh Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha’ (tokoh Syiah kontemporer yang menjadi salah satu rujukan kaum Syiah masa kini), yang juga dikutip oleh QS: “Syiah tidak menerima hadits-hadits Nabi saw kecuali yang dianggap sah dari jalur Ahlul bait. Sementara hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi semacam Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Amr bin Ash dan sesamanya, maka dalam pandangan Syiah Imamiyah, mereka tidak memiliki nilai walau senilai nyamuk sekalipun.” (hal. 313).

PPS juga menjawab tuduhan bahwa Ahlusunnah diskriminatif, karena tidak mau meriwayatkan hadits dari Imam-imam Syiah. Pernyataan semacam itu hanyalah suatu prasangka belaka dan tidak didasari penelitian ilmiah apa pun. Dalam kitab-kitab Ahlusunnah, riwayat-riwayat Ahlul Bait begitu melimpah. Imam Bukhari memang tidak meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq, dengan berbagai alasan, terutama karena banyaknya hadits palsu yang disandarkan kaum Syiah kepada Ja’far ash-Shadiq. Bukan karena Imam Bukhari membencinya. Bukhari juga tidak meriwayatkan hadits dari Imam Syafii dan Ahmad bin Hanbal, bukan karena beliau membenci mereka. (hal. 324-330).

3. Tentang pengkafiran Ahlusunnah:

QS: “Apa yang dikemukakan di atas sejalan dengan kenyataan yang terlihat, antara lain di Makkah dan Madinah, di mana sekian banyak penganut aliran Syiah Imamiyah yang shalat mengikuti shalat wajib yang dipimpin oleh Imam yang menganut mazhab Sunni yang tentunya tidak mempercayai imamah versi Syiah itu. Seandainya mereka menilai orang-orang yang memimpin shalat itu kafir, maka tentu saja shalat mereka tidak sah dan tidak juga wajar imam itu mereka ikuti.” (hal. 120).

PPS: “Memperhatikan tulisan Dr. Quraish Shihab di atas, seakan-akan Syiah yang sesungguhnya memang seperti apa yang digambarkannya (tidak menganggap Ahlusunnah kafir dan najis). Akan tetapi siapa mengira bahwa faktanya tidak seperti penggambaran Dr. Quraish Shihab? Jika kita merujuk langsung pada fatwa-fatwa ulama Syiah, maka akan tampak bahwa sebetulnya Dr. Quraish Shihab hendak mengelabui pemahaman umat Islam akan hakikat Syiah. Bahwa sejatinya, Syiah tetap Syiah. Apa yang mereka yakini hari ini tidak berbeda dengan keyakinan para pendahulu mereka. Dalam banyak literatur Syiah dikemukakan, bahwa orang-orang Syiah yang shalat di belakang (menjadi makmum) imam Sunni tetap dihukumi batal, kecuali dengan menerapkan konsep taqiyyah… “Suatu ketika, tokoh Syiah terkemuka, Muhammad al-Uzhma Husain Fadhlullah, dalam al-Masa’il Fiqhiyyah, ditanya: “Bolehkah kami (Syiah) shalat bermakmum kepada imam yang berbeda mazhab dengan kami, dengan memperhatikan perbedaa-perbedaan di sebagian hukum antar shalat kita dan shalat mereka?” Muhammad Husain Fadhlullah menjawab: “Boleh, asalkan dengan menggunakan taqiyyah.” (348-349).

Seorang dai Syiah, Muhammad Tijani, mengungkapkan, bahwa “Mereka (orang-orang Syiah) seringkali shalat bersamaAhlusunnah wal Jama’ah dengan menggunakan taqiyyah dan bergegas menyelesaikan shalatnya. Dan barangkali kebanyakan mereka mengulangi shalatnya ketika pulang.” (hal. 350-351).

Banyak sekali buku-buku referensi utama kaum Syiah yang dirujuk dalam buku terbitan PPS ini. Karena itu, mereka juga menolak pernyataan Dr. Quraish Shihab bahwa yang mengkafirkan Ahlusunnah hanyalah pernyataan orang awam kaum Syiah. PPS juga mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam menerima wacana “Persatuan umat Islam” dari kaum Syiah. Sebab, mereka yang mengusung persatuan, ternyata dalam kajiannya justru memojokkan Ahlusunnah dan memposisikannya di posisi zalim, sementara Syiah diposisikan sebagai “yang terzalimi”.

Buku terbitan PPS ini memang banyak memuat fakta dan data tentang ajaran Syiah, baik klasik maupun kontemporer. Terhadap Imam mazhab yang empat, misalnya, dikutip pendapat dalam Kitab Kadzdzabu ?ala as-Syiah, “Andai para dai Islam dan Sunnah mencintai Ahlul Bait, niscaya mereka mengikuti jejak langkah Ahlul Bait dan tidak akan mengambil hokum-hukum agama mereka dari para penyeleweng, seperti Abu Hanifah, asy-Syafii, Imam Malik dan Ibnu Hanbal.” (hal. 366).

Terlepas dari fakta tentang Syiah dan kritik terhadap Quraish Shihab, terbitnya buku ini telah menjadi momen penting bagi PPS untuk turut berkiprah dalam peningkatan khazanah keilmuan Islam di Indonesia. PPS memang telah didirikan pada tahun 1745. Jadi, usianya kini telah mencapai lebih dari 260 tahun. Jumlah muridnya kini lebih dari 5000 orang. Sejumlah prestasi ilmiah tingkat nasional juga pernah diraihnya. Diantaranya, pada Ramadhan 1425 H, PPS berhasil meraih juara I dan III lomba karya ilmiah berbahasa Arab yang diselenggarakan oleh Depdiknas RI.

Dalam Jurnal Laporan Tahunan 1425/1426 H, disebutkan bahwa PPS juga cukup sering mendapat kunjungan tamu-tamu dari luar negeri. Termasuk dari kedutaan Australia dan Amerika Serikat. Mereka selalu menerima tamunya dengan baik. Tetapi, dengan sangat berhati-hati, selama ini, PPS senantiasa menolak dana bantuan dan hibah dari Australia dan Amerika.

PPS juga termasuk salah satu pesantren di Jawa Timur yang sangat gigih dalam melawan penyebaran paham Liberal. Ditulis dalam Laporan Tahunan tersebut: “Tahun ini, PPS menggerakkan piranti dunia maya untuk melestarikan dan menyelamatkan ajaran Ahlusunnah dari serbuan berbagai aliran sesat. Di website www.sidogiri.com secara khusus disediakan rubrik “Islam Kontra Liberal”. Rubrik ini digunakan oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk meng-counter wacana-wacana pendangkalan akidah yang ramai berkembang saat ini. Liberalisme, humanisme, rasionalisme, pluralisme, feminisme, sekularisme, dekonstruksi syariah dan paham-paham destruktif modern lainnya, menjadi bidikan yang terus ditangkal dengan wacana-wacana salaf yang dipegang Pondok Pesantren Sidogiri.”

Kita berdoa, mudah-mudahan akan terus lahir karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi dari PPS. Begitu juga dari berbagai pesantren lainnya. [Depok, 13 Rabiulawwal 1429 H/21 Maret 2008/www.hidayatullah.com].
Sumber
Artikel ini selain sebagai informasi dari saya kepada semua kaum muslimin,juga sebagai arsip saya pribadi.
semoga artikel ini bermanfaat.

19 komentar:

  1. Anonim12:57

    sidogiri memang mantap

    BalasHapus
  2. ponpes sidogiri tetaplah berkarya yaa

    BalasHapus
  3. Anonim04:31

    quraish shihab justru berusaha mempersatukan islam, beliau menilai dari luar sedangkan anda menilai dari dalam , menganggap sebagai wakil suara dari golongan anda.. carilah kesamaannya jangan mencari perbedaan... bukankah begitu cara mendamaikan dua orang yang sedang berkelahi ?Jika salah satu tidak didamaikan ,maka akan ketahuan siapa yang mengedepankan ego

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah maklum!mungkin anda(Anonim)tdk mengenal qureis syihab,tapi penulis ini(SIDOGIRI)tahu.dan saya juga tahu betul(karena pernah ada hubgan kelga dgn syihab)klo mereka pentolannya syiah la'natULLAH di Ind terutama alwi syihab.kecuali Habib Rizk yang InsyaALLAH tdk syiah.

      Hapus
  4. anonim@ mempersatukan islam bagaimana?menilai dari luar bagaimana?
    apa anda mengerti islam itu bagaiama,syi'ah itu bagaimana?
    mulai saya masih belum lahir ulama' aswaja itu memang tidak mengakui bahwa syi'ah itu islam.
    apa anda dan quraish shihab lebih faham agama islam dari pada para ulama' aswaja?
    anda sangat mantap mengatakan pemandangan dari luar,apa anda quraih shihab?atau perwakilannya?
    coba baca buku dari pesantren sidogiri dulu,dan fahami islam dan fahami syi'ah baru anda keluarkan fatwa anda,yang tentunya pakek dalil,bukan pakek pemikiran anda yang kebenarannya masih patut dipertanyakan semua golongan dan ummat.

    BalasHapus
  5. Anonim02:57

    kebanyakan bacot semua..urus urusan masing2..sok paling bener..

    BalasHapus
  6. ia,dan mungkin kata kata anda yang paling benar.
    kata kata anda sangat pas dicontohkan kepada semua manusia sejak dini

    BalasHapus
  7. Anonim00:04

    ini Blog Paling mengaku pintar, suci, benar yang pernah aku temuin di internet. isinya penuh provokasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ente yang banyak bacot.ente syiah???pantes kalau begitu.

      Hapus
  8. mulut kotor syiah nampak ketika mereka terpojok dalam kesesatannya.

    BalasHapus
  9. Anonim17:46

    Alloh SWT pasti tidak menginginkan perpecahan umatnya. Blog ini sama sekali menutup diri untuk persatuan umat Islam. Jangan jangan ini kaki tangan Yahudi yg senang liat Islam yg lemah karena berkelahi sesama saudara sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan Anonim01:07

      Ya,yahudinya kamu,itu mulutnya kamu tidak tahu ngomong!
      Alloh SWT pasti tidak menginginkan perpecahan umatnya. dasarnya apa ya?loe tahu dari mana?kalau allah tidak menginginkannya kenapa perpecahan bisa terjadi.
      Ngomong itu harus pakek ilmu Lol,jangan hanya bisa baca buku sudah ngomong masalah agama,dasar pengikut JIL dan LDII loe

      Hapus
  10. Syiah musuh dalam selimut jaga keluarga anda dari bahaya syiah

    BalasHapus
  11. Betul.. Syiah sesat dan di balik itu ada Quraish Shihab. Katanya mufassir, ya betul, mufassir Liberalisme, Syiah, dan nyeleneh.. Hati-hati

    BalasHapus
  12. Anonim08:15

    QS itu ilmunya tidak hanya melulu ilmu agama.tapi juga ilmu kebangsaan.emang susah sih ya klo org yg cuma taunya tt ilmu agama aja.curiga ini yg punya blog anggota FPI.soalnya udh Ghibah niy..sok paling sempurna islamnya.pengen ngetop juga kayaknya.ayooo semua istighfar..daripada ikutan ghibah,mnding qta perbaiki diri masing2 aja yuu?

    BalasHapus
  13. Anonim02:13

    Saya memang sangat minim ilmu agama... saya dan suami jg pasti ada perbedaan dalam berpendapat mengenai islam tapi tidak dg cara bermusuhan...bisa d bicarakan baik baik...

    BalasHapus
  14. Anonim14:59

    Yg jelas bda paham itu taakn hilang smpi kpn pun.krn itu sdh trjdi pda msa shahabat.mendingan kita koreksi masing2 diri kita.apakakah kita sudah benar mnurut hukum Allah yg kita pelajari?

    BalasHapus
  15. Anda muslim? Membaca paragraf pertama, saya meragukan kemusliman Anda. Tidak tercermin akhlak mulia dalam kata-kata Anda. Jika belum Islam, saya ajak Anda syahadat. Jika mengaku sudah Islam, saya mengajak Anda untuk meneladani Rasul Saw saat berkata-kata !!!

    BalasHapus
  16. Anonim04:45

    tulisan provokativ
    bosen baca yang begini

    BalasHapus

mohon berkomentar yang baik.
terima kasih sudah berkunjung dan atas komentar anda.